Polarisasi Politik: Definisi dan kenapa bisa terjadi.

Polarisasi politik memiliki makna terpecahnya pendapat politik suatu masyarakat. Sesuai dengan namanya, istilah ini menandakan bahwa masyarakat terbagi menjadi dua kutub pendapat yang saling bertolak belakang. Sebagai contoh, jika masyakat yang terpolarisasi melaksanakan pemilu presiden maka akan ada dua kubu yang dapat dijelaskan dalam ilustrasi berikut.

grafik polarisasi politik

Pada ilustrasi di atas secara sederhana seorang pendukung Paslon dapat dibagi menjadi 3 kategori. Kategori pertama adalah golongan putih. Kategori ini merupakan golongan masyarakat yang tidak mendukung kedua belah pihak dan berencana tidak memberikan suaranya ke salah satu paslon. Kategori kedua adalah pendukung normal. Pendukung ini dengan jelas mendukung salah satu Paslon dan akan memberikan suaranya terhadap salah satunya. Namun, golongan ini dapat diajak berdiskusi mengenai pandangan politik mereka dan tidak mati — matian membela salah satu Paslon. Artinya, mereka terbuka untuk mendiskusikan mengapa mereka memilih misalnya Paslon A namun masih terbuka dengan pandangan politis dari pendukung Paslon B. Golongan ini tidak akan menggunakan kekerasan dan cara anarkis untuk membela Paslon pilihan mereka. Mereka masih rasional dalam menanggapi konflik. Golongan ketiga merupakan golongan ekstrimis pendukung salah satu Paslon. Golongan ini akan mati — matian membela Paslon mereka jika ada seseorang yang tidak menerima pandangan mereka, bahkan dapat berakhir dengan cara yang anarkis. Golongan inilah yang merupakan golongan yang terpolarisasi. Dua golongan ekstrimis yang terpolarisasi memiliki pandangan yang sangat jauh berbeda dan rela membela apa yang mereka pikirkan dengan cara yang sangat ekstrim sehingga jika kedua kubu ini bertemu maka konflik akan terjadi.

Konflik tentang orientasi politik seperti contoh di atas terjadi saat pemilu Amerika Serikat tahun 2020. Jika kedua pihak dari sisi ekstrim saling bertemu maka konflik seperti video berikut dapat terjadi:

Selain mengenai orientasi Paslon, pengesahan hukum baru juga dapat mengundang demo anarkis seperti yang terjadi di India awal tahun lalu.

Namun polarisasi tidak hanya selalu mengenai konflik antara dua pihak. Terkadang ada satu pihak dari sisi ekstrem tertentu yang memicu konflik. Sementara sisi ekstrem lainnya memicu konflik dengan cara yang berbeda. Sebagai contoh kasus di Sri Lanka di tahun 2019 lalu, kaum muslim yang buka dari sisi ekstrem di serang oleh kelompok anarkis setelah terjadi pengeboman yang dilakukan saat paskah oleh ekstremis Islam.

Generalisasi ini sangat berbahaya dan akan menimbulkan akibat fisik ke warga sipil yang tidak tau apa — apa. Sangat di sayangkan jika seseorang terluka atau bahkan terbunuh oleh hasil generalisasi suatu kelompok.

Kenapa Polarisasi Dapat Mudah Terjadi di Era Informasi?

Menurut Conover et al (2011) Salah satu sebab polarisasi adalah penggunaan sosial media (Sosmed) yang semakin marak. Mereka mencontohkan Twitter, dalam sosmed ini seorang pengguna dapat mengikuti informasi yang diutarakan oleh orang yang mereka ikuti (follow). Postingan orang yand di ikuti ini akan terus muncul di beranda pengguna sehingga akan membentuk suatu opini yang merujuk ke salah satu sisi.

Opini ini akan menjadi sisi ekstrem apabila pengguna ini tidak ter ekspos sama sekali dengan opini yang berseberangan. Saat pengguna ini dihadapkan dengan opini yang berseberangan dia akan membela mati — matian opini yang dia miliki baik di lingkup daring bahkan di lingkup luring dengan mengikuti demonstrasi dan sebagainya.

Contoh lain, dengan konsep yang sama dapat terjadi di YouTube. Platform video daring terbesar ini memiliki konsep yang mirip dengan Twitter. Pengguna dapat mengikuti atau subscribe ke sebuah kanal dan video yang di unggah oleh kanal tersebut akan muncul di beranda. Perbedaannya ada pada sistem YouTube yang baru. Pengguna akan di rekomendasikan video berdasarkan apa yang telah mereka lihat. Hal ini akan membuat proses pembentukan opini ekstrem dapat terjadi karena pengguna tidak di perlihatkan pendapat dari sisi yang berbeda.

Lantas, hal apa yang dapat kita lakukan untuk menghindari polarisasi pendapat? Hal yang pertama adalah buka wawasan anda seluas — luasnya. Dengan ini anda akan memiliki pengetahuan yang berdasar sehingga saat anda dihadapkan dengan pendapat berlawanan anda tidak akan menggunakan cara seperti kekerasan untuk menentang pendapat tersebut. Hal kedua adalah jangan mudah tersulut emosi di manapun. Baik di forum daring ataupun luring menanggapi sesuatu dengan kepala dingin akan menghindarkan kita dari konflik yang tidak kita inginkan.

Referensi

Conover, M. D., Ratkiewicz, J., Francisco, M. R., Gonçalves, B., Menczer, F., & Flammini, A. (2011). Political polarization on twitter. Icwsm, 133(26), 89–96

--

--

--

Language, Tech and Food.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Ahmad Zaidi

Ahmad Zaidi

Language, Tech and Food.

More from Medium

Detecting the vanishing point in one-point perspective images using Computer Vision algorithms

To be, or not to be: legitimate targets for NSO Pegasus and other legal surveillance malware?

How to Install IBM Maximo Visual Inspection Edge with RHEL OS on Server x86 ?

Is iSIM the future of IoT Development? | Soracom